Rabu, 07 Desember 2011

Pesona Ujung Kulon

,
Suasana pantai Ujung Kulon
Foto: Doli
Sering sekali aku mendengar cerita tentang Ujung Kulon,  namun  belum pernah aku menginjakan kaki dan melihat langsung  keindahan alamnya.  Kebetulan kakakku bertugas disana sebagai fasilitator pemberdayaan masyarakat di  kawasan penyangga Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK).  Rabu 25 November kemarin, aku dajaknya kesana, karena ada acara panen ujicoba tanaman organik, yang menjadi salah satu program kerjanya.
Semula kang Rudi berencana  mengajak beberapa wartawan untuk meliput acara tersebut, namun sampai magrib belum juga ada yang datang, hanya kang LLJ wartawan Fesbuk Banten News yang ikut. Kami berangkat bertiga, aku yang menyetir, kakakku duduk disamping sebagai navigator, dan Kang LLJ duduk di belakang.kami berangkat dari Serang sekitar pukul 19.00 WIB, dengan menggunakan mobil sewaan xenia berwarna hitam. Suasana lalu lintas saat itu sepi, namun kondisi jalan yang kecil berkelok-kelok dan asing membuatku selalu waspada, apabila ada kendaraan dari arah lain harus mengurangi kecepatan. 
Jalanan yang kami lalui terasa tidak ada habisnya, dalam hati aku ngedumel sendiri "kapan ini nyampenya? kok ngga nyampe-nyampe" sudah hampir 3 jam perjalanan, namun belum ada petunjuk arah yang menunjukan tentang Ujung Kulon. 
Setelah melalui "Pulau Umang" aku berfikir jalanan sudah dekat, ternyata menurut kang Rudi perjalanan masih sekitar 2 jam lagi, dan dengan kondisi jalanan yang sulit dilalui karena lubang dan berbatu.Suasana jalanan sepi sehingga terdengar suara-suara binatang seperi: anjing, kodok, jangkrik dan beberapa binatang lain.
Saat mobil  melewati perkampungan, masyarakat terlihat berkumpul dipos ronda dengan ramah mereka menyapa kami dengan senyuman, terasa sekali masyarakatnya ramah kepada setiap tamu yang datang.
Suasana pantai Ujung Kulon
Foto: Doli
Akhirnya sampailah kami di Villa Paniis yang terletak de Desa Taman Jaya. Teman-teman Kang Rudi dan beberapa masyarakat menyambut dan mempersilahkan kami menyantap ikan bakar hasil tangkapan.  Perjalanan  jauh dan melelahkan membuatku tertidur di bale, padahal teman-teman kang Rudi sudah menyiapkan kamar utuk kami.Sekitar pukul 06.00 WIB aku terbangun, dan menghirup udara pagi yang segar. Ternyata persis di depan villa yang kita tempat adalah laut, airnya kebiru-biruan, bersih dan  jernih sekali.
Ketika aku kembali, terlihat beberapa orang berkumpul di bale dan mendengarkan cerita tentang sejarah masyarakat sekitar Taman Nasional Ujung Kulon. Menurut cerita mereka, dahulu warga yang menebang pohon sering dikejar-kejaroleh petugas TNUK,  lama-lama kelamaan mereka dirangkul dan diberdayakan sehingga merasa tidak enak oleh petugas TNUK apabila menebang pohon. Saat ini mereka mendukung semua program yang dilakukan oleh TNUK
Persiapan Acara
Foto: Doli

Persiapan Acara
Foto: Doli
Sekitar pukul 08.00 WIB aku ditugaskan oleh kang Rudi untuk mengontrol lokasi kegiatan  diantar oleh Pak Nirad, salah seorang ketua Lembaga Masyarakat Desa (LKD). Dia sangat ramah dan baik, dia juga menolongku saat batre handphone habis, tidak hanya pak Nirad, hampir semua masyarakat Desa Taman Jaya yang kutemui mempelakukan aku dengan baik.
Sekitar pukul 09.00 WIB kamisama-sama berangkat ke lokasi kegiatan, telihat ratusan penduduk berkumpul di tenda di pesawahan yang menjadi areal Panen Padi Organik yang menjadi  bagian dari program pemberdayaan masyarakat POKJA  AKBJ  Taman Nasional Ujung Kulon.
Kepala Desa Sumur (kiri) sedang bersalaman dengan Kepala TNUK (kanan)
Foto: Doli
Kepala Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Agus Priambudi turut hadir bersama rombongan, tak ketinggalan Camat Kecamatan Sumur, dan Kepala Desa Cisaat meramaikan acara tersebut.
Perangkat desa sedang berpose
Foto: Doli
Menurut Kepala Taman Nasional, Agus Priambudi dalam sambutannya, hasil panen padi organik, seluas 10 hektar yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan mendongkrak kualitas dan kuantitas hasil pertanian ramah lingkungan (organik),  juga mengurangi tekanan masyarakat terhadap kawasan TNUK yang membuka lahan hutan dalam kawasan sebagai alasan kurangnya lahan pertanian untuk produksi pangan sesuai dengan kebijakan pemerintah untuk mulai menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan “Go Green” yang pada akhirnya mendukung pembangunan konservasi TNUK. Acara ini ditutup dengan makan siang nasi tumpeng bersama-sama.
Hujan lebat dan kabut mewarnai perjalanan pulang kami, sampai di Labuan pukul sekitar pukul  19.00, kemudian kami mampir ke rumah KepalaTaman Nasional, disana kami disambut dengan kopi panas, tidak hanya itu ketika tahu aku seorang mahasiswa beliau memberikan banyak nasehat, pesannya yang menempel adalah untuk selalu membuka wawasan dengan membaca membaca dan membaca,karena menurutnya dari bukulah semua sumber ilmu.
Sampai di Serang sekitar pukul 23.00 WIB tentunya dengan berbagai pengalaman dan kenangan tentang Ujung Kulon yang menjadi surga tersembunyi, karena bukan hanya alamnya yang indah, masyarakatnya yang ramah dan bisa menjadi daya tarik wisatawan, namun jalanan yang rusak membuat tidak nyaman, semoga jalan menuju Ujung Kulon dapat diperbaiki, dan semoga Ujung Kulon menjadi pilihan liburan
Acara panen padi sehat yang dihadiri oleh masyarakat. (Doli)
Tempat makan di Sumur
Foto: Doli

Jalan Rusak Menuju Ujung Kulon

Selasa, 29 November 2011

Sate Bandeng Ibu Aliyah

,
Sang Owner; Ibu Aliyah memperlihatkan sate bandeng kebanggaannya
 Yang paling unik dari kuliner khas Banten adalah bentuk penyajiannya dalam bentuk sate, selain sate bebek yang menjadi andalan kuliner Banten yaitu sate bandeng. Kuliner ini sudah terkenal di berbagai penjuru di Indonesia, dengan dipublikasikannya kuliner ini melalui beberapa media, baik itu cetak dan elektronik.

Sate Bandeng yang terkenal di Banten yaitu Sate Bandeng Ibu Aliyah (Kaujon Banten). Usaha ini didirikan sejak tahun 1989, merupakan usaha turun-temurun dari sejak dahulu. Harga yang ditawarkan oleh Sate Bandeng Ibu Aliyah termasuk tinggi yaitu sebesar Rp. 25 ribu per ekor.

“Harga boleh lebih mahal tetapi kita mengimbanginya dengan kualitas rasa yang lebih dan beda,” ujarnya.
Aliyah menambahkan percuma dijual harga murah tetapi kualitas rasa tidak diperhatikan.
Aliyah dalam satu hari dapat memproduksi Sate Bandeng sebanyak 60 tusuk dengan ikan sebanyak 20 Kg. Sate Bandeng Ibu Aliyah melakukan inovasi baru dengan menyediakan dua macam pilihan rasa, rasa biasa, manis gurih, dan rasa pedas. Tergantung keinginan pembeli yang mana yang paling disukai. Ikan yang dipilih untuk dibuat sate bandeng tentunya adalah ikan yang terbaik dan masih segar dengan produksi sebanyak dua hari satu kali.

Persaingan usaha pembuatan sate bandeng menurut Aliyah, mengalami persaingan yang tidak sehat. “Dulu saya pertama kali yang mempelopori berjualan sate bandeng di sepanjang jalan tol menuju Serang Timur, tetapi sekarang sudah banyak yang berjualan dengan harga murah dan rasa yang tidak menjamin, maka dari itu saya pindah dan membuka usaha ini di rumah saja,” terangnya.

Aliyah menambahkan dalam menghadapi persaingan merupakan sebuah tantangan baginya dan semakin menambah keyakinannya untuk bisa bertahan di antara persaingan yang ada.
 

BANTEN CORNER Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates