Tampilkan postingan dengan label 1st Week. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1st Week. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Desember 2011

DEBUS KESENIAN ASLI BANTEN

,
Atraksi Debus dengan menggoreskan golok ke bagian leher, Foto; Doli
Debus merupakan kesenian asli masyarakat Banten yang diciptakan pada abad ke-16, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570), dalam rangka penyebaran agama Islam. Agama Islam diperkenalkan ke Banten oleh Sunan Gunung Jati, salah satu pendiri Kesultanan Cirebon, pada tahun 1520, dalam ekspedisi damainya bersamaan dengan penaklukan Sunda Kelapa. Kemudian, ketika kekuasaan Banten dipegang oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682), debus difokuskan sebagai alat untuk membangkitkan semangat para pejuang dalam melawan penjajah Belanda. Apalagi, di masa pemerintahannya tengah terjadi ketegangan dengan kaum pendatang dari Eropa, terutama para pedagang Belanda yang tergabung dalam Vereenigde Oostindische Compagnie (Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) atau VOC. Kedatangan kaum kolonialis ini di satu sisi membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata, yaitu terjadinya percampuran akidah dengan tradisi pra-Islam. Hal ini yang terdapat pada kesenian debus.
Dengan membaca mantra “haram kau sentuh kulitku, haram kau minum darahku, haram kau makan dagingku, urat kawang, tulang wesi, kulit baja, aku keluar dari rahim ibunda. Aku mengucapkan kalimat la ilaha illahu“. Maka pada saat itu juga ia menusukkan golok tersebut ke paha, lengan, perut dan bagian tubuh lainnya, tanpa merasa sakit sedikitpun. Debus dalam bahasa Arab yang berarti senjata tajam yang terbuat dari besi, mempunyai ujung yang runcing dan berbentuk sedikit bundar. Dengan alat inilah para pemain debus dilukai, dan biasanya tidak dapat ditembus walaupun debus itu dipukul berkali kali oleh orang lain. Atraksi atraksi kekebalan badan ini merupakan variasi lain yang ada dipertunjukan debus. Antara lain, menusuk perut dengan benda tajam atau tombak, mengiris tubuh dengan golok sampai terluka maupun tanpa luka, makan bara api, memasukkan jarum yang panjang ke lidah, kulit, pipi sampai tembus dan tidak terluka. Mengiris anggota tubuh sampai terluka dan mengeluarkan darah tetapi dapat disembuhkan pada seketika itu juga, menyiram tubuh dengan air keras sampai pakaian yang melekat dibadan hancur, mengunyah beling/serpihan kaca, membakar tubuh. Dan masih banyak lagi atraksi yang mereka lakukan.Memang sulit dipercaya orang hanya membaca mantra, sudah kebal dengan apapun. Apakah ini termasuk ilmu sihir atau tidak itu tergantung pemikiran masing-masing masyarakat, pada kenyataannya debus adalah kesenian asli masyarakat Banten. (Moch. Faizal Hadi Sanjaya)
Referensi         : (Gautama, Bayu, Dyah Kalsitorini, Mona Melinda. Muda Usia Kaya Pesona : Banten. Surga no.02, 25 Maret – 25 April 2004, Muharram 1425 H)

Selasa, 29 November 2011

Sate Bandeng Ibu Aliyah

,
Sang Owner; Ibu Aliyah memperlihatkan sate bandeng kebanggaannya
 Yang paling unik dari kuliner khas Banten adalah bentuk penyajiannya dalam bentuk sate, selain sate bebek yang menjadi andalan kuliner Banten yaitu sate bandeng. Kuliner ini sudah terkenal di berbagai penjuru di Indonesia, dengan dipublikasikannya kuliner ini melalui beberapa media, baik itu cetak dan elektronik.

Sate Bandeng yang terkenal di Banten yaitu Sate Bandeng Ibu Aliyah (Kaujon Banten). Usaha ini didirikan sejak tahun 1989, merupakan usaha turun-temurun dari sejak dahulu. Harga yang ditawarkan oleh Sate Bandeng Ibu Aliyah termasuk tinggi yaitu sebesar Rp. 25 ribu per ekor.

“Harga boleh lebih mahal tetapi kita mengimbanginya dengan kualitas rasa yang lebih dan beda,” ujarnya.
Aliyah menambahkan percuma dijual harga murah tetapi kualitas rasa tidak diperhatikan.
Aliyah dalam satu hari dapat memproduksi Sate Bandeng sebanyak 60 tusuk dengan ikan sebanyak 20 Kg. Sate Bandeng Ibu Aliyah melakukan inovasi baru dengan menyediakan dua macam pilihan rasa, rasa biasa, manis gurih, dan rasa pedas. Tergantung keinginan pembeli yang mana yang paling disukai. Ikan yang dipilih untuk dibuat sate bandeng tentunya adalah ikan yang terbaik dan masih segar dengan produksi sebanyak dua hari satu kali.

Persaingan usaha pembuatan sate bandeng menurut Aliyah, mengalami persaingan yang tidak sehat. “Dulu saya pertama kali yang mempelopori berjualan sate bandeng di sepanjang jalan tol menuju Serang Timur, tetapi sekarang sudah banyak yang berjualan dengan harga murah dan rasa yang tidak menjamin, maka dari itu saya pindah dan membuka usaha ini di rumah saja,” terangnya.

Aliyah menambahkan dalam menghadapi persaingan merupakan sebuah tantangan baginya dan semakin menambah keyakinannya untuk bisa bertahan di antara persaingan yang ada.

Senin, 21 November 2011

Sawarna Amazing!!

,

Pemandangan Laut Sawarna
(Foto: gulabeureum.blogspot.com)
BANTEN memiliki banyak obyek wisata menarik yang sayang untuk dilewati. Namun, keberadaannya sering terabaikan, bahkan tak mendapat perhatian dari pemerintah. Salah satu lokasi wisata di Banten yang justru terkenal di dunia maya ialah Pantai Sawarna. Sawarna menyimpan sejuta keindahan, namun menuju ke sana tidak seindah pesonanya. Bersama Muhammad Arif dengan tim tour and travel "Banten Adventure", okezone menikmati indahnya pantai Sawarna.
Lokasi yang berjarak sekira 260 Km dari Jakarta ini memang memiliki pemandangan yang sangat menakjubkan. Di awal pembahasan
mengenai Sawarna, kami hanya
mencantumkan dua titik wisata yaitu Goa Lalay dan Ciantir. Sebetulnya, Sawarna masih menyimpan lokasi lain selain kedua titik yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara.


Beberapa diantaranya adalah Goa Lawuk, Pantai Tanjung Layar, dan Laguna Pari.Goa Lawuk memiliki keindahan stalagnit dan stalaktit yang sangat luar biasa. Goa Lawuk lebih sulit dicapai karena posisinya yang agak tinggi di pinggir bukit. Di sini kami pun dibuat kagum dengan keindahan stalaktit yang terbentuk dari tetesan air menimpa batuan gamping.Tak jauh dari pantai Ciantir, terdapat obyek menarik lainnya untuk diabadikan dalam sebuah foto. Penduduk sekitar menyebutnya Tanjung Layar. Kumpulan karang yang dihempas oleh ombak laut. Pemandangan yang indah di surga yang tersembunyi. Pantai Tanjung Layar memiliki keunikan tersendiri yaitu dua buah karang menyerupai layar, dan Gua Tanjung Layar yang memiliki panorama sunset luar biasa indah.Laguna Pari terdapat di daerah perbukitan. Dengan waktu tempuh berjalan kaki selama dua jam dari Tanjung Layar, Anda dapat menikmati keindahan sunrise di Laguna Pari.


Hanya satu kata yang terpatri di dalam hati, menakjubkan.Kendati begitu menggiurkan, namun menuju surga ini tidak seindah pesonanya. Rute yang bisa ditempuh dari Jakarta–Tomang–Serang–Pandeglang–Malingping–Bayah–Sawarna. Dari Pandeglang, Anda harus menempuh perjalanan berat karena kondisi jalan yang rusak. Kendati hanya sekira 150 Km jarak dari Pandeglang menuju Sawarna, namun waktu tempuhnya bisa melebihi tiga jam.Tampaknya, pemerintah tidak menganggap serius kondisi jalan rusak yang menghambat perjalanan. Sehingga membuat para pengunjung menyayangkannya. Ujang Nandi, seorang anak sekolah di bangku III SMP yang bertugas mengatur lalu lintas bersama teman-temannya menjelaskan, bahwa kondisi jalan rusak sudah lama dibiarkan. "Wuih..sudah lama ini kang, jalanan rusak parah kayak gini. Ada kali dari saya kelas 2 SD," keluhnya.Saat ini, memang tengah berjalan perbaikan jalan. Namun, lantaran terlalu berlarut-larut membuat anak-anak seusia Ujang peduli untuk mengatur lalu lintas. Itu terjadi lantaran hanya menyisakan satu lajur kendaraan. "Bekal kami cuma HP, jadi saya SMS ke teman yang nunggu di ujung jalan kalau jalan di sini sudah ditutup. Saya sebutkan nomor platnya, nah kalau teman saya sudah lihat mobil terakhir, baru dia buka yang dari sana dan terus bergantian. Sudah lama begini, ada tiga bulan mah kang," papar Ujang.


Seiring pemberlakukan jam kerja shift, Ujang bisa mengatur waktu untuk sekolah dan menjaga jalan. "Kalau saya dan teman-teman saya jaga sejak pulang sekolah sampai jam 12 malam kang, baru nanti diganti sama bapak-bapak," tutupnya. (Henry)
(Suumber: http://travel.okezone.com)


Gerbang Pantai Sawarna (Foto: travel.okezone.com)

Foto: http://www.titiw.com/2010/03/05/warna-warni-pantai-sawarna

Minggu, 20 November 2011

Pandawa Untirta Menarik Minat Mahasiswa

,
Mahasiswa Pandawa Untirta Giat Berlatih
(Foto Dolli)

Pandawa yang berdiri pada tanggal 21 Juli tahun 2005 ini memang sudah ternama di kampus Untirta. Setiap kali anggota Pandawa melakukan kegiatan latihan, selalu mencuri perhatian para mahasiswa yang ada di sekitarnya.

Berikut profil dari Pandawa :
Organisasi Kemahasiswaan yang konsisten dengan pelestarian kebudayaan Banten khususnya, dan Indonesia pada umumnya dengan berlandaskan pancasila serta ber-azaskan pada Kemahasiswaan, Kemasyarakatan, Kekeluargaan, Kesenian dan Kebudayaan disingkat (5K) yang merupakan wujud kedaulatan mahasiswa untuk menampung dan menyalurkan aspirasi, minat dan bakat mahasiswa didalam bidang seni dan budaya tradisional.


Pandawa memiliki 4 SUB Bidang:
1.     Sub bidang Silat dan Debus
2.     Sub bidang Seni Musik
3.     Sub bidang Seni Tari
4.     Sub bidang Seni Rupa


Menurut Agung Frasetia (Puun ke-7) “Mahasiswa Agribisnis, ada sekitar ratusan mahasiswa Untirta yang menjadi anggota Pandawa, namun hanya sekitar 34 anggota saja yang kini aktif”. Untuk jadwal latihan, anggota Pandawa berlatih rutin setiap hari setiap pukul 3 sore. Para angota Pandawa tidak lengkap rasanya jika tidak ada alunan musik seperti bedug, gamelan, dan gong. Alat-alat musik ini mereka dapatkan dari hasil terkumpulnya uang kas mereka, selain itu mereka juga mengajukan ke pihak rektorat untuk meng-subsidi alat-alat musik lainnya.


Pandawa Untirta pernah memenangkan juara ke satu untuk tari kreasi rampak beduk terbaik se-Universitas di Jawa Barat, pada saat itu perlombaan berlangsung di STSI (Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung).


Agung mengaku bangga telah menjadi anggota Pandawa Untirta, apalagi saat ini Ia baru menguasai ilmu debus dari Pandawa ini, “Ini merupakan kebanggan tersendiri buat saya, saya ingin menunjukkan kepada teman-teman yang lain bahwa inilah seni dan budaya Banten, bahwa untuk mempelajari budaya daerah itu bukanlah sesuatu yang kampungan, jika tidak ada yang memperjuangkan kebudayaan daerah kita sendiri, maka kebudayaan ini akan punah”.
Para anggota Pandawa ini mempunyai seorang pelatih, yaitu KH Syarif Abdullah yang biasa mereka panggil dengan sebutan ayah, yang sampai saat ini aktif di berbagai organisasi debus di wilayah Serang.

Saat ditanyakan kendala apa saja yang di alami oleh para anggota Pandawa, Agung mengaku kendala yang dihadapi hanya pada saat sebagian anggota Pandawa sibuk dengan perkuliahan, untuk dana, mereka juga mengajukan dari luar kampus, namun satu-satunya sokongan dana mereka dapatkan dari rektorat.

Agung juga menghimbau bagi yang ingin bergabung dengan kesenian Pandawa Untirta “ Mulai mencintai yang namanya seni tradisional dari sekarang, karena kalau kita sudah nggak peduli lagi sama yang namaya seni tradisional, ciri khas dari masyarakat yang berbudaya sendiri, bisa terkikis, bisa hilang, jangan sampai ketika kebudayaan kita di obok-obok oleh negara lain kita mulai sibuk, jadi mulailah dari kita sendiri, mencintai kebudayaan tradisional karena itu adalah suatu identitas, ciri khas Indonesia” tutupnya. (Faisal)
 

BANTEN CORNER Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger Templates